28
Jan

1
IPK, Penting Gak Sih?

IPK, Penting Gak Sih?

Bagi mahasiswa baru mungkin masih belum tahu, belum sepenuhnya mengerti apa itu IPK, cara meraih IPK tertinggi, dan cara menghitung berapakah IP semester yang telah kita tempuh??

IPK adalah singkatan dari Indeks Prestasi Kumulatif atau bahasa kerennya GPA (Grade Point Average) merupakan ukuran kemampuan mahasiswa sampai pada periode tertentu yang dihitung berdasarkan jumlah SKS yang telah ditempuh. Ukuran nilai tersebut akan dikalikan dengan nilai bobot mata kuliah kemudian dibagi dengan jumlah SKS mata kuliah yang diambil pada periode tersebut. Yaa, itulah sedikit keterangan yang saya ambil dari Buku Pedoman Perkuliahan di Kampus.

Untuk meraih Indeks Prestasi tertinggi disamping harus rajin belajar dan rajin kuliah, mahasiswa juga perlu kerjasama dengan dosen. Biasanya sebelum perkuliahan awal semester dimulai dosen memberitahu mahasiswa dalam sistem penilaian selama kuliah, dan aturan itu telah disepakati antara dosen dan mahasiswanya. Semacam itu yang dinamakan dengan kontrak kuliah. Penilaian yang umum di gunakan oleh dosen adalah 5% dari kehadiran, 20% dari tugas, 20 dari praktikum, 25% dari hasil Ujian Tengah semester, dan 30 % dari Ujian Akhir Semester.

Kehadiran Mahasiswa dalam perkuliahan sangatlah penting, selain dapat materi kuliah, biasanya ada penilaian tersendiri dari dosen yaitu keaktifan mahasiswa selama kuliah berlangsung. Dosen akan memberi tugas kepada mahasiswa secara individu ataupun kelompok tergantung dosen pangampu mata kuliahnya. Ujian Tengah Semester (UTS) diselenggarakan setelah kuliah berjalan selama 7 kali pertemuan pada setiap mata kuliah. Kemudian Ujian Akhir semester yang biasanya dosen mengambil nilai 30% dari ujian ini, diselenggarakan setelah 7 kali perkuliahan setelah Ujian Tengah Semester diselenggarakan. Itu gambaran secara umumnya.

Sekarang permasalahannya, IPK tinggi apakah penting dan menjamin??

Jelasnya IPK tinggi memang sangat penting tetapi harus diimbangi dengan kemampuan kita, dan bukan menjadi suatu kepentingan nomor satu. Karena nilai A, B, dan lain-lain itu tidak menunjukkan diri seseorang. Di zaman serba IT ini nilai dapat dimanipulasi, tapi skill yang akan membenarkan semua. Faktanya, bukanlah hal yang aneh jika smua orang menginginkan nilai A, tapi anehnya sedikit orang yang dapat membuktikan bahwa dia bernilai “A” dalam segala hal. Isn’t right??

Konkritnya, lebih baik kualitas bukan kuantitas. Percuma IP bagus tapi cuman formalitas buat bahan pameran ke orang tua, kualitasnya saja tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dan hasil dari semua itu yang sulit kadang diperoleh dengan “normal” dan “murni”. Alias dari keringat sendiri tanpa adanya andil dari “tetangga.”

Buktinya saja tidak sedikit terdapat mahasiswa di Indonesia yang berusaha keras untuk bisa meraih IPK tertinggi walaupun melalui mengikuti kegiatan semester pendek dan remidial, demi meraih IPK diatas 3. Kenapa itu dilakukan? Karena faktanya dalam administratif IPK diatas 3 lebih mudah untuk meraih pekerjaan.

Karena IPK merupakan salah satu syarat dalam mengikuti seleksi pekerjaan. Dan rata-rata dalam setiap lowongan pekerjaan yang ada selalu mencantumkan syarat IPK minimal. Yang pasti IPK tertinggi akan lebih mudah untuk lolos ke tahap selanjutnya yaitu keilmuan, kemampuan kita, dan yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan berorganisasi dan komunikasi.

Akan tetapi mahasiswa kadang dilema dengan dihadapkan antara dua pilihan organisasi atau IPK. Lebih penting manakah IPK atau organisasi?

IPK dan organisasi dua-duanya memang penting. Selain bukan hanya pintar dalam hal otak saja tapi kita juga perlu mengetahui ilmu dalam organisasi. Karena di masyarakat itu sangat dibutuhkan dan hal seperti itu tidak akan didapatkan selama kuliah. Jadi, antara IPK dan organisasi saling dibutuhkan dan saling keterkaitan satu sama lain. Poin penting yang harus diperhatikan jika kuliah sambil berorganisasi biar IPK kita tidak di bawah 3 gara-gara kesibukan di organisasi, yang penting kita pandai mengatur waktu.

Karena jika kuliah hanya berorientasi pada IPK tinggi (cumlaude) saja tanpa ada kemauan untuk terjun di dunia organisasi sangatlah (saya pribadi menilainya) salah. Karena di organisasi kita juga pasti akan menemukan dan mengasah softskill. Adapun perpaduan antara skill di bidangnya dengan softskill) dan mengekspansi relasi (networking) sangatlah dibutuhkan selama masih kuliah. Hal seperti ini kadang baru terasa kelika sudah beranjak dari masa perkuliahan. So, jangan cuma jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang). Tapi inget, jika terlanjur terfokus pada suatu organisasi serta mengenyampingkan kuliahnya maka akan berimbas pada molornya kuliah (tidak lulus tepat pada waktunya).

Kesimpulannya, lulus tepat pada waktunya bisa dicapai dengan IPK yang gak harus tinggi, Tapi di samping itu ada juga kok yang softskill-nya jelek dan IPK gak tinggi tetapi dia jadi aset perusahaan. Setiap orang berbeda-beda, jadi semua tergantung pada independen masing-masing. Maka dari itu, pertimbangankan matang-matang.

So, IPK bukan hanya modal untuk menjadi sukses, tapi pengalaman dan softskill juga di perlukan, maka kuliah dan oraganisasi sama-sama penting untuk masa depan 🙂

Comment (1)

  • pasca sarjana

    Thanks for one’s marvelous posting! I definitely enjoyed reading it, you might be a great author. I will always bookmark your blog and will eventually come back in the foreseeable future. I want to encourage continue your great posts, have a nice evening!

    reply

Reply